 |
| Encum Nurhidayat |
Di depan rumah ku ada sebuah pohon mangga yang entah tahun berapa
pohon itu mulai di tanam.
Pernah pada suatu hari aku bertanya pada ayah tahun berapa pohon mangga itu di tanam, dan oleh siapa ???
Ayah berkata semenjak dia lahir pohon itu sudah ada mungkin kakek atau nenek ku yang menanamnya ...
Hanya
kata mungkin tak ada kepastian siapa yang menanamnya, tetapi hari
ini pohon itu tidak ada lagi dihalaman depan rumah, sudah ditebang untuk bahan tiang
rumah ku jadi kusen, daun pintu dan semua sampai ranting nya pun aku
gunakan untuk bahan bakar dapurku ( maklum gak kebeli Gas )
Ada
sedikit kilas balik tentang pohon itu waktu nenek masih muda dan lahirlah ayah ku, pohon itu adalah sahabat ayah ku yang selalu memberikan kesejukan
dengan daunya, memberikan manis buahnya. Ayahku pun menjelang
dewasa dan berumah tangga dengan ibu ku, pohon mangga itu pun masih
setia menemani mereka sampai lahirlah aku.
Persahabatan
antara aku dan pohon mangga itu di mulai dari aku masih bayi aku sering
di ayun di dahannya yang kokoh sambil ibuku memasak menunggu ayah bekerja
di ladang.
Pohon mangga itu mencurahkan kasih sayang nya kepada ku,
melindungi aku dari cahaya matahari dengan daunya yang rindang
,sementara angin semilir menghantarkan ku kepada buaian mimpi indah,
Waktu
terus berlalu hingga ketika masa kanak-kanak aku pun selalu bermain di bawah pohon itu
setiap hari hingga Aku mulai timbul rasa sayang pada sahabatku itu,
diantara hausnya aku selalu menyiram supaya segar dan berbuah lebat ,
sang pohon mangga memenuhi janjinya buah daun serta pohonnya semakin
sehat.
Hingga akhirnya aku dewasa dan pergilah aku meninggalkan pohon
mangga sahabat ku itu untuk merantau mencari kehidupan diluar sana.
Hari
demi hari sahabatku itu memikirkan aku karna buahnya yang manis tidak
pernah dinikmati olehku lagi, dinginnya siraman air juga jarang
disiramkan karna ayahku sibuk dengan ladangnya. merana sahabatku itu,
buah yang di suguhkan di borongkan oleh ayahku kepada tengkulak, dalam ke gersangan pohon mangga itu selalu berdoa semoga si anak kecil yang di ayun bermain serta periang itu cepat kembali .
Rupanya
do'a pohon mangga untuk sahabatnya didengar TUHAN si anak itu kembali
dengan keluh kesahnya bahwa kekasihnya ingin dilamar secepatnya,
sementara bekerja saja aku belum tetap masih THL.
Sahabat ku mendengar
keluh kesah ku dengan lapang dada pohon mangga memberikan buah
terbaiknya untuk di jual kepasar uangnya untuk membeli emas pengikat
sang kekasih sahabatnya.
Si anak pergi kembali dengan
kekasihnya untuk melanjutkan kehidupan berumah tangga dan membangun
kehidupan baru. Pohon mangga sahabat ku itu merasa kesepian kembali
karena sang anak kecil yang lucu kini sudah dewasa dan sibuk mengurus
keluarganya, kesepian melanda pohon mangga itu sementara ayahku semakin
tua.
Dalam kegelisahannya pohon itu, si anak datang
kembali dengan muka yang murung dan penuh kesedihan. Dengan sabar
sahabat ku menghibur dengan tulus, sahabatku menanyakan ada apa
gerangan kenapa engkau murung seperti ini biasanya aku melihat engkau
begitu ceria, apalagi waktu engkau datang kepadaku untuk melamar kekasih
mu dengan buah ku engkau dapatkan kekasihmu hingga menjadi istrimu
sekarang apalagi yang kau pikirkan ...... sahabatku.
Dengan
penuh kesedihan aku bercerita (curhat) bahwa aku ingin memiliki rumah dengan tiang
yang kokoh pintu yang indah serta perabotan rumah yang mewah, tapi aku
sadar dengan apa aku membeli karna engkau tahu sahabatku aku masih THL
sementara anak dan istriku harus berlindung di tempat aman, makan yang
cukup serta rumah yang kami selalu idam-idamkan.
Sejenak
keheningan melanda benak masing-masing hingg ahirnya sahabat ku
berkata..... "Ambilah dahanku yang besar besar untuk membikin rumah mu
sementara aku nanti masih bisa tumbuh lagi, kalau masih kurang ambilah
badan ku untukmu wahai sahabat ku," dengan ketulusan yang amat sangat
sahabatku memberikan apa yang terbaik untuk ku.
Waktu
terus berjalan rumahku pun masih gubug dan jauh dari permanen aku mau
meminta lebih aku malu karna selama ini aku selalu meminta...
Di sore hari aku datang berkunjung kepada pohon (sahabatku itu), sahabatku
bertanya sudah cukupkah yang kau butuhkan dariku kalo belum aku siap
membantu, ambilah semuanya aku akan bangga jika aku berguna untuk mu
ambilah sahabatku tidak ada yang lebih membahagiakan kecuali melihatmu
tersenyum.........
Dengan berat hati kutebang sahabatku
itu untuk membikin rumahku untuk berlindung aku dan keluarga ku, sahabat
terima kasih atas semua pengorbananmu, betapa mulia hatimu.
Saat
ini jika anak ku bertanya tunggak apa yang begitu besar di depan rumah
kakek aku menjawab itu sahabat ayah dan pelindung kita semua dari panas
hujan dan dingin di kala malam.
Apakah masih ada
persahabatan seperti ini....? Saling memberi, saling mengisi, dalam kekurangan, jalin kesatuan saudaraku , bersama kita
bisa....................???
ASIH ASAH ASUH
Bumi Labanjaya