FK-THL TBPP KARAWANG

KIRIM CERITA ANDA KE EMAIL KAMI

TERPAFAVORIT

IKLAN BLOG

Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label CERITA PENDEK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA PENDEK. Tampilkan semua postingan

CATATAN SEORANG IBU



             Belakangan ini Ibu melihatmu kelihatan sibuk yang lain dari biasanya, Anakku. Sering sekali engkau utak-atik hape atau duduk berlama-lama di depan komputer. Sering pula engkau berdiskusi bersama teman-temanmu dengan penuh semangat. Tapi sekali waktu Ibu memergokimu kelihatan loyo, tanpa semangat. Maka Ibupun mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan dirimu. Ketika engkau sedang pergi, kuberanikan diri membuka catatan-catatanmu. Banyak sekali tulisanmu, Nak. Agenda ini, agenda itu. Topik ini, topik itu. Sebagian besar tulisan itu tentang pertanian, tentang pekerjaanmu saat ini yakni THL-TBPP. Kubaca pelan-pelan dengan serius agar dapat menangkap makna tulisan-tulisan ini dengan baik.

            Dalam tulisanmu engkau bercerita tentang dunia pertanian Indonesia dulu, kini dan harapan di masa mendatang. Lalu engkau menghubungkannya dengan nasibmu dan kawan-kawanmu (sesama THL-TBPP) sekarang dan kemungkinan kelanjutannya ke depan. Sebagai seorang Ibu, aku menangkap adanya harapan dan kecemasan yang bercampur aduk tersirat dari tulisanmu itu, Nak. Ya, Allah rupanya ini yang menjadi biang masalah kenapa Anakku terkadang duduk termenung. 
            Engkau benar dalam tulisanmu bahwa tantangan dunia pertanian ke depan akan semakin berat. Seperti katamu, anatomi, struktur dan kultur dunia pertanian kita sangat khas. Kepemilikan lahan yang sempit misalnya, adalah contoh yang paling menonjol. Tidak seperti di Thailand, Jepang dan Amerika Serikat di mana seorang petani mengelola lahan garapan hingga puluhan hektar. Maka dengan kondisi dan status kepemilikan lahan yang demikian menurutmu, mungkin menurut sebuah referensi, pola pembinaan petani yang paling tepat adalah pola pembinaan kelompok. Lalu engkau menyinggung-nyinggung soal Revitalisasi Sumberdaya Manusia Pertanian (SDMP) dan Revitalisasi Kelembagaan Petani, serta hubungan timbal balik antara keduanya. Katamu Revitalisasi SDMP harus dilakukan secara simultan dengan Revitalisasi Kelembagaan Petani, karena keduanya terkait erat. Yah, mungkin maksudmu Revitalisasi SDMP dan Revitalisasi Kelembagaan Petani adalah ibarat dua sisi mata uang, keduanya saling melengkapi dan saling ‘mengesahkan’. Jelasnya, keberadaan dan kiprah kelompok tani, gabungan kelompok tani atau apapun namanya tidak bisa dilepaskan dari keberadaan dan kiprah penyuluh pertanian.
            Engkau benar Anakku, jika dulu di sekitar tahun 1970-an Koes Plus, salah satu grup band paling populer saat itu, dengan riang bernyanyi “Bukan lautan hanya kolam susu .. Kail dan jala cukup menghidupimu .. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman .. Ikan dan udang menghampiri dirimu”, maka kini di mana ada kehidupan semudah itu ? Surga kemudahan kehidupan masa lalu itu sudah lewat. Di usia yang sudah memasuki senja ini, Ibu ikut menjadi saksi betapa kehidupan petani pada masa ini dikepung oleh berbagai tantangan, yang semuanya berat. Maka sungguh mulia kehendak orang-orang yang menetapkan dirinya menjadi pendamping petani. Sungguh, Ibu bangga kepadamu Nak, karena engkau rela menjadi bagian dari kelompok yang membaktikan dirinya pada tujuan-tujuan mulia seperti ini. Harapan dan do’a Ibu, semoga kemuliaan cita-citamulah yang akan menghantarkanmu pada kehidupan yang lebih baik dan nasib yang lebih pasti.
            Anakku, Ibu menulis catatan ini saat engkau tertidur lelap. Ibu menangkap guratan-guratan lelah di wajahmu. Ibu jadi teringat akan saat-saat melahirkanmu dulu, saat-saat yang paling sulit dan menegangkan  bagi seorang Ibu. Lalu perlahan tapi pasti engkaupun tumbuh dan berkembang menjadi seperti sekarang ini. Anakku, suap demi suap makanan yang masuk ke tubuhmu dan kemudian menjadi kerangka tubuh dan daging adalah berasal dari bahan makanan yang dihasilkan oleh petani Indonesia. Maka wajar jika di dalam tubuhmu mengalir darah dan semangat petani. Jadi Anakku, sebenarnya engkau ini adalah ANAK-ANAK PETANI INDONESIA. Meminjam istilah anak-anak muda sekarang, engkau Indonesia banget. Ada salah satu temanmu yang berseloroh, “kan Ibu beli beras itu dari petani, bukan minta”. Tapi temanmu yang lain dengan cepat menukas, “ya tapi kalau tidak ada beras (bahan pangan) uangnya mau dibelikan apa? Apa mau dibelikan setumpuk pasir terus digoreng?” He .. he .., Ibu suka dengan dialog-dialog kecil dan segar ini. Sederhana, lugas tapi sarat pesan dan menggugah kesadaran.
            Maka esok hari ketika engkau terbangun dan matahari pagi mulai menyapa dunia, segarkanlah pikiranmu, teguhkan semangat dan cita-citamu untuk kebangkitan dunia pertanian Indonesia. Lakukanlah yang terbaik selagi engkau bisa. Jangan pernah patah semangat dan jangan pernah ragu, karena engkau berada dalam jalur perjuangan yang benar. Anakku, ingatlah baik-baik, jika bukan engkau, kalian-kalian ini, siapa lagi yang akan menjadi penerus pendahulu-pendahulumu untuk membaktikan diri menjadi pendamping petani. Mungkin ini yang engkau maksud dengan istilah REGENERASI PENYULUH PERTANIAN. Jika benar begitu, maka menurut Ibu regenerasi penyuluh pertanian adalah suatu kemestian.
Anakku, di akhir tulisan ini Ibu ingin mengatakan bahwa Ibu sangat sayang padamu. Serasa Ibu ingin menggendong dan menimangmu seperti dulu lagi, tapi itu jelas tak mungkin karena engkau sudah sebesar ini, sementara fisik Ibu sudah mulai rapuh. Semoga perjuanganmu yang panjang dan tidak mengenal lelah ini akan segera membuahkan hasil seperti yang engkau dan teman-temanmu harapkan. Amin, allahumma amin.

Read More

AKU BANGGA JADI ANAK PETANI

Aku ingat waktu kecil dulu hati ku senang sekali jika musim ini tiba karna aku akan bebas bermain lumpur dan mengejar para pembajak serta nikmatnya naik kerbau di pematang sawah sambil sesekali mataku mengamati siapa tau ada belut yaang sedang tersangkut oleh cangkul pembajak.

Benar perhitungan ku ada seekor belut tersangkut dan dengan bangganya aku mengabilnya sungguh licin memang tapi cukup membuatku senang,  menjelang siang perutku sudah mulai keroncongan dan minta di isi dengan rasa yang amat sangat ku buka bekal yang di berikan ibuku pagi tadi. dan tanpa sungkan ku cuci tangan ku diantara air sawah bekas ku tadi dan dengan bajuku yang masih kering ku elap tangan ku, mulailah kami makan mhhhhhhhhhhhhhh......  nikmatnya sambal kesukaan ku ada di situ, lalapan tidak lupa serta yang paling paforit diantaranya adalah jengkol, petey, dan sambel terasi, ikan asin mengiringi makan siangku mhhhhhhhhh.......... sungguh jika aku ingat waktu itu rasanya aku ingin kembali ke dunia ku.


Makan ku telah habis dan waktunya istirahat sejenak aku mencoba istirahat di saung yang di buat oleh ayahku untuk melepas lelah jika seharian di sawah. Aku tiduran dan sambil berpikir aku suka dengan sawah ini dengan bau Lumpur yang khas dan gatalnya air sawah, aku suka, aku ingin suatu saat aku jadi petani yang lebih canggih dari ayah ku, aku ingin sekolah pertanian dan aku ingin hidup jadi petani yang sukses. tidak terasa senja telah datang dan saatnya aku pulang, sebelum pulang ku sempatkan diri untuk mengambil rumput di antara galengan sawah untuk makan kelinciku di rumah, dengan karung yang terisi rumput aku pulang naik kerbau pembajak yang rumahnya memang dekat dengan rumah ku.

Sepanjang perjalanan kami banyak cerita wehhhhhhhhh asiknya nih kerbau apakan anak cucuku nanti masih bias menikmati enaknya naik kerbau ???????

Satu jam perjalanan sampailah aku di rumah di mana ibuku dengan senyum manisnya menyapa ku dengan penuh kasih sayang juga ayah ku yang membawa benih dari kali untuk di semai besok di guludan sebaran yang sudah di persiapkan .

Habis mahrib kami pun berkumpul di ruang makan. kami menikmati makan malam dengan belut hasil tangkapan ku tadi siang mhhhhhhhhhh..... nikmatnya makan malam ku hari ini.

Sehabis makan malam ayahku menyempatkan berbincang dengan kami semua tentang rencana besok akan di mulai penyemaian bibit, dengan panjang lebar ayahku menceritakan indahnya bertani dan nikmatnya jadi petani, semua ilmu tentang pertanian yang di wariskan oleh nenek moyang ku dan hebatnya mereka di jaman itu.

Aku tertarik dengan cerita ayahku yang begitu pandainya dan tanpa kesulitan menceritakan padaku, cerita itu begitu indah sampai ahirnya malam beranjak dan saat nya aku istirahat dan ayah pun sibuk mempersiapkan benih yang akan di bawa besok pagi .

Pagi itu hujan turun rintik rintik dan membuatku terlalu nyeyak tidur semalaman hingga aku kesiangan bangun nya ibu ku dengan lembut membangunkan aku dan telah siap sarapan singkong bakar kesayangan ku dan sedikit air teh yang sudah siap di meja dan ayahku pun sudah menunggu, sejenak kami sarapan lalu bergegas meninggal kan rumah menggunakan sepedah yang aku sendiri tidak tahu kapan sepedah itu di belinya aku lahir pun sepedah itu sudah ada, dan selalu di pakai ayahku kemana ayahku pergi, kadang ke ondangan, kepasar dan …… pokoke sepedah itu top banget dan selalu setia selama ini, aku bertanya kepada ayah sepedah ini sebenarnya di beli kapan kok bentuknya beda dengan sepedah pak Burhan, pak Jaeni...???, sepedahku itu aneh banget hanya rodanya saja yang sama. Kata ayah dia juga tidak tau karma itu sepedah warisan dari nenek buyutnya yang di berikan di saat ayah jadi penganten dulu hehehhe... nostalgia di ceritakan.

Diantara rintik hujan ayahku mengayuh sepedah itu dengan hati-hati sesekali rantai sepedah itu lepas dan aku harus turun sesaat sampai rantai itu terpasang kembali, di tengah perjalanan na'as tak dapat di tolak sepedah itu bocor bannya mula mula yang depan kami masih paksakan dan terahir ban belakang pun mengikutinya, dengan sabar ayah mengatakan nak ini belum seberapa di banding kakek buyutmu dulu yang selalu jalan kaki kemanapun mau weleh welehhhh bapak biasa menghiburku. Jarak 500 meter tak terasa kami pun sampai di sawah tempat kami akan menyemai benih dengan ilmu yang di ajarkan tadi malam aku dengan percaya diri menabur benih di guludan, ayahku begitu pintar sementara aku dengan gayaku selalu mengikutinya dan apa yang terjadi sebaran benih ku tidak rata ayah dengan sabar menghiburku yidak apa itu sudah bagus nanti kamu juga lebih pintar dari ayah, kata kata itu membuatku senang aku di puji dan di jadikan anak sahabat dan murid oleh ayahku sendiri .

siang telah beranjak matahari sudah tinggi saatnya kami pulang dengan jalan kaki sejauh dua kilo meter karma sepedah wasiat bocor dan aku naik diantaranya ayahku yang mendorong dan sepanjang perjalanan ayahku selalu menghiburku dengan segala pengalamanya yang membesarkan hatiku .

menjelang sore sampelah kami di rumah dengan keringat yang begitu bercucuran aku kasian kepada ayah . menjelah senja kami pergi ke kolam mencoba rilek dam memancing ikan untuk makan malam nanti kebetulan di kolam ada ikan mujair lele dumbo dan gurame lumayan kata ayahku untuk tambahan gizi biar aku pintar .

malam beranjak aku melihat ayahku tidur dib alai bamboo milik kami satu satunya di tengah rumah wajahnya begitu terlihat letih di usianya yang sudah mulai senja aku sayang ayah ku dekati ayahku dan mulai ku pijit ayah ku dengan kepandaan ku yangdi warisi oleh nenek dari ibuku . mungkin ayah ku merasa nyaman dengan pijitan ku orokan suara dengkur pun mulai terdengar dengan kasih sayang terus ku pijit ayah . hingga ahirnya ayahku sadar masih ada aku yang di sampingnya memijit dengan tulus .ayahku memeluk aku dan bilang terima kasih aku senag telah membuat ayahku bahagia .

beberapa hari kemudian dating lah musim tanam itu tiba ibu ibu sekarang sibuk bersiap menanam bibit padi yang dulu aku semai semua orang gotong royong bergantian menanam padi kalo di kampungku namanya liuran ayah sibuk mencabut bibit aku sibuk mengantar bibit . diantara senag dan gembiranya tanpa kami sadari ada seorang berpakean rapi seperti pegawai mengamati pekerjaan kami .pegawai tu menyapa pak mulai musim tanam nehh nanam padi apa sapanya dengan lembut .Ayahku menjawab ciherang pak katanya ini bibit bagus dan nasinya enak .kalo yang sebelah sana itu katanya hibrida ( itu juga kata penjualnya ) nasinya katanya lagi enak dan nilai gizinya tinggi ( menirukan gaya penjual bibit ) terus bapak siapa ????? ayahku bertanya pegawai itu belum menjawab ayahku melihat ada nama di bajunya tertulis di sana Encum Nurhidayat .ohhhh bapak gak usah jawab saya sumarsono dan ini anak saya namanya gepeng nur alim bapak namanya encum yahhh dari mana pak kok ada pegawai ke sawah yahh enggak sayang itu bajunya yang bagus kotor dan sepatunya kena Lumpur .

pertanyaan polos situ keluar seketika dari ayahku karma merasa asing ada pegawai masuk sawah dengan senyum yang bersahabat pegawai tu menjelaskan tugasnya bahwa dia seorang penyuluh yang di bantukan dan setatusnya tenaga harian lepas dan bekerja di kontrak .ayah ku tertegun baru mendengar ada pegawai kontrak yang ada biasa di dengar ya sawah di kontrak, rumah di kontrak ,terus ini pegawai gagah pintar ramah kok di kontrak .

penyuluh itu dengan ramahnya menjelaskan yah itulah Negara kita pak jamanya mungkin yang membuat harus ada pegawai kontrak tidak seperti bapak selamanya bekerja abadi tidak ada kontrak.

Semakin lama pembicaraan itu semakin akrab dan ibu ibu sudah mulai banyak menanam bibit .dan penyuluh itu tertegun metoda apa yang di pakai oleh pak sumarsono kenapa bibitnya asal di tanam dan tidak beraturan kadang kala ibu ibu bertabrakan pantat dalam menanam . penyuluh itu bertanya metoda apa pak kok nanam padinya begitu bagai mana nantinya jika ingin memupik ,dan bagai mana nanti jika ingin merumput , banyak pertanyaan yang keluar seketika karma jauh melenceng dari apa yang selama ini diajarkan di pertanian .

Pak sumarsono dengan polos menjawab ini war4isan dan selama ini kami memang menanam padi dengan cara begini apa bapak punya cara yang mungkin bias di tanam kan di sini karma bapak kan pasti pinter pak sumarsono memuji penyuluh . dengan muka merah karma malu di puji penyuluh itu menawarkan system legowo dua tyang selama ini di ajarkan di berbagai dinas sambil meminta apa bapak setuju jika dengan mitoda itu . ayahku setuju sekali karma penyuluh itu dengan sigapnya menyiap kan tali buat taplakan . ayahku bingung kenapa tali begitu panjang di kasih jarak di ukut dan jaraknya jarang jarang apa ini beneran tapi karma yakin dengan penyuluh itu mkanya bapak setuju dan mengikuti nya . begitu terpasang tali dengan taplakan ibu ibu mengerutu menanam cara apa ini pak kok jarang jarang banet apa panen pak nati kan pohonn nya sedikit .
Ayahku meneangkan ibu kita harus percaya bu ini pak encum penyuluh yang terdidik kita ikuti dulu ilmunya siapa tahu nanti membawa perubahan yang baik untuk kita .
Ahirnya legowo dua tertanam dan begitu tumbuh banyak yang mecibir pak sumarsono aneh bin kebelinger masa nanam padi kok jarang jarang sayang tuh saewah .dengan sabar ayaku menunggu hingga saatnya merumput tiba .benar kata penyuluh itu lebih gampang merumputnya karma barisan yang teratur apalagi saat pemumpukan dan penyemprotan wehhhhhh ayah ku seneng banget dengan ide ini semula orang yang mecibir sekarang malam banyak berytanya ke ayah ku .

Bulan berganti saatnya panen tiba dan kami bergembira karma panen ku kali ini adalah panen perdana dari adaptasi ilmu yang di berikan pak encum sang penyuluh itu dengan suka cita kami memanen sawah kami dan tak lupa memisah kan metoda lama dengan metoda baru ternyata hasilnya metoda baru lebih unggul dan membawakan hasil yang jauhhhhhhhh lebih banyak .

Kami baru sadar setelah beberapa hari ini tidak melihat penyuluh itu kemana gerangan orang yang telah mengajari kami menanam dengan baik mengolah dengan baik kenapa sekarang tidak pernah ke rumah dan tidak pernah berpapasan di jalan rupanya penyuluh itu sudah pamitan kepada kepala desa bahwa di ahir musim ini kontraknya sebagai THLTBPP sudah berahir dan penyuluh itu akan bekerja di tempat lain .dan meninggalkan no tlpon kepada kepala desa itu .

Karma penasaran tak kunjung datang ayah bernisiatip mencari kabar ke balai desa dan benar disana ada kabar tentang penyuluh itu yangada di buku tamu yang sudah usang komplit dengan no tlp nya . pak lurah menjelaskan penyuluh itu telah berahir masa kontraknya dan dia sekarang sudah bekerja entah di mana silahkan pak sumarsono menghubungi no tlp ini 0267 466 3 999 semoga bapak bertemu lagi dengan penyuluh kebanggaan kita semua .

Sepulang dari balai desa ayahku bersikeras ingin menelpon penyuluh itu dengan perjalanan menggunakan sepedah tua itu ayahku berusaha mencari wartel untuk menelpon sang penyuluh .

Wartell di sudut jalan kota kecamatan dengan senyman manis pelayan wartel menanyakan bias tlp ke nomer ini neng dengan menunjukan secarik kertas lusuh bungkus rokok yang ada no tlp … di ujung sana tlp berbunyi dan istri sang penyuluh yang mengankat .tanpa basa basi lagi ayaku menanyakan pak encum ada ….istrinya bilang ada ayah ini pak sumarsono ingin bicara.

Dengan perasaan senang ayahku mengundang penyuluh itu datang ke kampong kami dan dengan tulus penyuluh itu menyanggupi karma pangilan jiwa seorang penyuluh yang sudah terpatri dalam hatinya .

Beberapa waktu kemudian penyuluh itu datang lagi tapi tidak dengan baju yang bagus lagi karma baju itu adalah masa lalunya yang sekarang sudah di kubur dalam dalam dan menjadi sejarah masa lalu . tanpa baju itupun jiwa penyuluh tetap membara dan siap menolong siapa saja

Ayahku bingung kenapa penyuluhku sekarang memakai kolor dan sandal biasa seperti orang kebanyakan bukan kah pegawai itu dulu memakai pakaian yang bagus .
Penyuluh itu mengatakan kontrak saya sudah habis pak mohon maaf saya tidak memberitahukan sebelumya .saya sekarang sama seperti bapak semua tapi saya siap membantu kapan pun sebagai jiwa penyuluh .

Ayahku tersenyum bapak penyuluh saya sanggup membayar kebutuhan penyuluh dan siap membantu apa yang jadi kebutuhan penyuluh berpapa bapak di gaji dulu .
Dengan senyumnya yang khas penyuluh itu hanya diam tiba tiba dari belakang ku terdengar setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu yang sangat keras rupanya dari tadi telah brkumpul warga desa mendengar percakapan antara ayah dan penyuluh itu
Ayahku dengan kerendahan hati memohon bantulah kami dan bimbinglah kami mengenal teknologi pertanian .jadilah penyuluh kami.

Wargapun berkata yang sama .

Tanpa di sadari kehadiranya selama ini telah membawa perubahan membawa ilmunya dan di rasakan manfaat nya THLTBPP adalah wadah agar masarakat yang akan menilainya penyuluh hanya bekerja yang menilai rakyat petani biar kontrak berahir yang penting penyuluh pernah menorehkan tinta EMAS dalam SWASEMBADA BERAS.

By : Yohanes Lee

Read More

Cita Cita PPL Di masa kecil


sudah lama aku gak merasakan lumpur sawah mengering di kakiku. Pagi ini aku merasakanya lagi dingin dan baunya yang khas. Masa tanam padi sedang dimulai. Dan pagi ini, aku mengantarkan sarapan pagi buat para pekerja tandur yang semuanya ibu-ibu. Sisa bambu pembatas semaian benih mendorongku untuk masuk sawah dan meminggirkanya. Dan lumpur ini mengingatkanku dengan masa kecilku yang akrab berbalut lumpur.

Dulu, setiap masa panen, ketika belalang muncul banyak-banyaknya. Area mainanku adalah sawah, mengejar belalang untuk di goreng. belalang di desaku di namai "Walang". Ada banyak walang yang aku kenal. Ada walang gambuh. tempatnya di pohon singkong. Ada walang bedor, tempat hidupnya di tanaman padi dan rumput-rumput yang agak tinggi. walang gepuk, walang geper, walang kayu, walang genjor (ini paling enak buat dimasak), walang epret, walang kecongcong, walang kedehe dan banyak lagi jenis belalang lokal yang aku lupa namanya. Kalo malam tiba, masyarakat di desaku dulu banyak yang ngobor nangkap walang. Dengan bekal damar buat penerang dan botol sebagai tempat menaruh hasil tangkapan, aku juga ikut berpartisipasi. Bahkan aku sempat bingung dulu, kegelapan mengaburkan posisiku. Setiap melangkah yang terlihat hanya obor-obor kecil lain. Jalan sama sekali gak terlihat. Akhirnya kususuri pematang sawah yang jadi terasa sangat jauh dan muaraku pun tampak. Jalan besar menuju pulang.

Sekilas masa kecil terkuak gara-gara lumpur ini, ia yang menempel dikakiku dan sekarang sudah mengering. Dan lumpur kering yang menempel di kakiku ini mengundang banyak pertanyaan tetanggaku. "Itu kakinya kotor kenapa mas?" Asem, mereka kira aku ga bisa nyangkul kali (padahal emang gak bisa....). Aku bilang saja habis ikut tandur.

Aku hanya berfikir, sempatkah anakku kelak mengenal lagi jenis-jenis belalang seperti ayah dan mbahnya. Akankah mereka juga terus mengingat bau lumpur sawah ini? sawah yang telah mengantar nenek moyangnya hidup dalam ketenangan desa kecilnya.

Hujan baru saja berhenti dua hari, tapi sawah sudah kekurangan air untuk keperluan penanaman. Beberapa kali aku lihat mesin penyedot air beropreasi disawah. Dan keluhan kang Muhrodin tadi sempat kuingat "beli pupuk sekarang harus indent mas, gak bisa langsung beli".

Dan pagi ini dirumah, kubersihkan lumpur kering yang menempel di kaki dan tanganku....

Read More

SAHABAT SEJATI


Encum Nurhidayat
Di depan rumah ku ada sebuah pohon mangga yang entah tahun berapa pohon itu mulai di tanam.
Pernah pada suatu hari aku bertanya pada ayah tahun berapa pohon mangga itu di tanam, dan oleh siapa ???

Ayah berkata semenjak dia lahir pohon itu sudah ada mungkin kakek atau nenek ku yang menanamnya ...

Hanya kata mungkin tak ada kepastian siapa yang menanamnya, tetapi hari ini pohon itu tidak ada lagi dihalaman depan rumah, sudah ditebang untuk bahan tiang rumah ku jadi kusen, daun pintu dan semua sampai ranting nya pun aku gunakan untuk bahan bakar dapurku ( maklum gak kebeli Gas )

Ada sedikit kilas balik tentang pohon itu waktu nenek masih muda dan lahirlah  ayah ku, pohon itu adalah sahabat ayah ku yang selalu memberikan kesejukan dengan daunya, memberikan manis buahnya. Ayahku pun menjelang dewasa dan berumah tangga dengan ibu ku, pohon mangga itu pun masih setia menemani mereka sampai lahirlah aku.

Persahabatan antara aku dan pohon mangga itu di mulai dari aku masih bayi aku sering di ayun di dahannya yang kokoh sambil ibuku memasak menunggu ayah bekerja di ladang.
Pohon mangga itu mencurahkan kasih sayang nya kepada ku, melindungi aku dari cahaya matahari dengan daunya yang rindang ,sementara angin semilir menghantarkan ku kepada buaian mimpi indah,

Waktu terus berlalu hingga ketika masa kanak-kanak aku pun selalu bermain di bawah pohon itu setiap hari hingga Aku mulai timbul rasa sayang pada sahabatku itu, diantara hausnya aku selalu menyiram supaya segar dan berbuah lebat , sang pohon mangga memenuhi janjinya buah daun serta pohonnya semakin sehat. 
Hingga akhirnya aku dewasa dan pergilah aku meninggalkan pohon mangga sahabat ku itu untuk merantau mencari kehidupan diluar sana.

Hari demi hari sahabatku itu memikirkan aku karna buahnya yang manis tidak pernah dinikmati olehku lagi, dinginnya siraman air juga jarang disiramkan karna ayahku sibuk dengan ladangnya. merana sahabatku itu,
buah yang di suguhkan di borongkan oleh ayahku kepada tengkulak, dalam ke gersangan pohon mangga itu selalu berdoa semoga si anak kecil yang di ayun bermain serta periang itu cepat kembali .

Rupanya do'a pohon mangga untuk sahabatnya didengar TUHAN si anak itu kembali dengan keluh kesahnya bahwa kekasihnya ingin dilamar secepatnya, sementara bekerja saja aku belum tetap masih THL.
Sahabat ku mendengar keluh kesah ku dengan lapang dada pohon mangga memberikan buah terbaiknya untuk di jual kepasar uangnya untuk membeli emas pengikat sang kekasih sahabatnya.

Si anak  pergi kembali dengan kekasihnya untuk melanjutkan kehidupan berumah tangga dan membangun kehidupan baru.  Pohon mangga sahabat ku itu merasa kesepian kembali karena sang anak kecil yang lucu kini sudah dewasa dan sibuk mengurus keluarganya, kesepian melanda pohon mangga itu sementara ayahku semakin tua.

Dalam kegelisahannya pohon itu, si anak datang kembali dengan muka yang murung dan penuh kesedihan.  Dengan sabar sahabat ku  menghibur  dengan tulus, sahabatku menanyakan ada apa gerangan kenapa engkau murung seperti ini biasanya aku melihat engkau begitu ceria, apalagi waktu engkau datang kepadaku untuk melamar kekasih mu dengan buah ku engkau dapatkan kekasihmu hingga menjadi istrimu sekarang apalagi yang kau pikirkan ...... sahabatku.

Dengan penuh kesedihan aku  bercerita (curhat) bahwa aku ingin memiliki rumah dengan tiang yang kokoh pintu yang indah serta perabotan rumah yang mewah, tapi aku sadar dengan apa aku membeli karna engkau tahu sahabatku aku masih THL sementara anak dan istriku harus berlindung di tempat aman, makan yang cukup serta rumah yang kami selalu idam-idamkan.

Sejenak keheningan melanda benak masing-masing hingg ahirnya sahabat ku berkata..... "Ambilah dahanku yang besar besar untuk membikin rumah mu sementara aku nanti masih bisa tumbuh lagi, kalau masih kurang ambilah badan ku untukmu wahai sahabat ku," dengan ketulusan yang amat sangat sahabatku memberikan apa yang terbaik untuk ku.

Waktu terus berjalan rumahku pun masih gubug dan jauh dari permanen aku mau meminta lebih aku malu karna selama ini aku selalu meminta...

Di sore hari aku datang berkunjung kepada pohon (sahabatku itu),  sahabatku bertanya sudah cukupkah yang kau butuhkan dariku kalo belum aku siap membantu, ambilah semuanya aku akan bangga jika aku berguna untuk mu ambilah sahabatku tidak ada yang lebih membahagiakan kecuali melihatmu tersenyum.........

Dengan berat hati kutebang sahabatku itu untuk membikin rumahku untuk berlindung aku dan keluarga ku, sahabat terima kasih atas semua pengorbananmu, betapa mulia hatimu.

Saat ini jika anak ku bertanya tunggak apa yang begitu besar di depan rumah kakek aku menjawab itu sahabat ayah dan pelindung kita semua dari panas hujan dan dingin di kala malam.

Apakah masih ada persahabatan seperti ini....? Saling memberi, saling mengisi, dalam kekurangan, jalin kesatuan saudaraku , bersama kita bisa....................???

ASIH   ASAH   ASUH






Bumi Labanjaya

Read More

JANGAN DULU BERPRASANGKA BURUK PADA SUATU PERISTIWA

Sesuatu Tidak Selalu Kelihatan Sebagaimana Adanya

Dua orang malaikat berkunjung ke rumah sebuah keluarga kaya. Keluarga itu sangat kasar dan tidak mengijinkan kedua malaikat itu bermalam di ruang tamu yang ada di rumahnya. Malaikat tersebut ditempatkan pada sebuah kamar berukuran kecil yang ada di basement.

Ketika malaikat itu hendak tidur, malaikat yg lebih tua melihat bahwa dinding basement itu retak. Kemudian malaikat itu memperbaikinya sehingga retak pada dinding basement itu lenyap.Ketika malaikat yg lebih muda bertanya mengapa ia melakukan hal itu, malaikat yg lebih tua menjawab,”Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya”.

Malam berikutnya, kedua malaikat itu beristirahat di rumah seorang petani dan istrinya yang miskin tetapi sangat ramah. Setelah membagi sedikit makanan yang ia punyai, petani itu mempersilahkan kedua malaikat untuk tidur di atas tempat tidurnya.

Ketika matahari terbit keesokan harinya,malaikat menemukan bahwa petani itu dan istrinya sedang menangis sedih karena sapi mereka yang merupakan sumber pendapatan satu-satunya bagimereka terbaring mati. Malaikat yg lebih muda merasa geram.

Ia bertanya kepada malaikat yg lebih tua, “Mengapa kau membiarkan hal ini terjadi? Keluarga yg pertama memiliki segalanya, tapi engkau menolong menambalkan dindingnya yg retak.Keluarga ini hanya memiliki sedikit tetapi walaupun demikian mereka bersedia membaginya dengan kita. Mengapa engkau membiarkan sapinya mati ?” Malaikat yg lebih tua menjawab,“Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya.”

“Ketika kita bermalam di basement, aku melihat ada emas tersimpan di lubang dalam dinding itu. Karena pemilik rumahsangat tamak dan tidak bersedia membagi hartanya, aku menutup dinding itu agar ia tidak menemukan emas itu.”

“Tadi malam ketika kita tidur di ranjang petani ini, malaikat maut datang untuk mengambil nyawa istrinya. Aku memberikan sapinya agar malaikat maut tidak jadi mengambil istrinya.” “Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya.”

Kadang2 itulah yang kita rasakan ketika kita berpikir bahwa sesuatu tidak seharusnya terjadi. Jika kita punya iman,kita hanya perlu percaya sepenuhnya bahwa semua hal yang terjadi adalah demi kebaikan kita. Kita mungkin tidak menyadari hal itu sampai saatnyatiba.

By : Yohanes Lee

Read More

PENYULUH PERTANIAN KARAWANG

RANGKING