FK-THL TBPP KARAWANG

KIRIM CERITA ANDA KE EMAIL KAMI

TERPAFAVORIT

IKLAN BLOG

Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label KWALITAS PRODUK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KWALITAS PRODUK. Tampilkan semua postingan

Gabah Bawon, Penyuluh Elaborasi Harga GKP `Padi Rebah dan Berdiri`

Pemerintah Kabupaten Karawang memastikan harga gabah kering panen [GKP] di tingkat petani Rp4.200 hingga Rp4.300 per kg, dan harga Rp3.500 per kg berlaku untuk gabah bawon yang diberikan pemilik sawah kepada buruh tani sebagai upah kerja. Sementara Perum Badan Urusan Logistik [Bulog] membeli GKP dengan harga lebih tinggi untuk ´padi berdiri´ di atas harga pembelian pemerintah [HPP] Rp4.070 namun GKP dari ´padi rebah´ lantaran angin kencang dan hujan di kisaran Rp3.800 sampai Rp3.900 per kg.

Hal itu diungkapkan oleh Slamet Sugiman,SP penyuluh pertanian lapangan [PPL] di Desa Mekarsari, Kecamatan Jatisari, Karawang di Provinsi Jawa Barat, dan Kepala Dinas Pertanian Pemkab Karawang, IR. H Hanafi MP di sela kunjungan kerja Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman di Desa Mekarsari, Kecamatan Jatisari, Selasa [26/3].

Kabar tentang harga GKP Rp3.500 per kg awalnya sempat membuat gusar Mentan Amran Sulaiman yang menduga Bulog tidak serius mendukung program serap beras/gabah petani [Sergap] yang digagas Mentan sejak 2015 untuk menjaga suplai beras ke pasar dan semangat petani meningkatkan produksi sekaligus menaikkan kesejahteraan petani.

"Ini kami bawa Bulog. Ada gabah katanya lagi turun harganya Rp 3.500 per kilogram. Ini tolong dikejar. Harga gabah Rp 3.500 ini tidak boleh. Minimal kata Bapak Presiden Rp 4.070 per kilogram," kata Mentan.

Mentan hadir di Karawang pada kegiatan ´Sinkronisasi dan Apresiasi Program Kementerian Pertanian 2019´ yang dihadiri oleh lima ribu petani, santri tani milenial, dan penyuluh pertanian. Turut hadir Bupati Cellica N; Dirjen PSP Sarwo Edhy; Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian [BPPSDMP] Momon Rusmono; Dirjen Perkebunan, Kasdi Subagyono; Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian [Balitbangtan] Fadjry Djufry; dan Tenaga Ahli Mentan, Baran Wirawan.

Sistem Bawonan
Hanafi pun menjelaskan bahwa berdasarkan hasil penelusuran, harga GKP Rp3.500 per kg berlaku untuk gabah bawon. Sampai saat ini, di kawasan lumbung padi seperti Karawang masih berlaku gotong royong dan kekeluargaan saat panen raya padi, untuk membantu saudara/kerabat/tetangga mendapatkan beras dengan bekerja sebagai buruh tani.

Sebagaimana diketahui ´bawonan´ merupakan alternatif yang baik bagi sistem pengupahan usaha tani padi. Bagi pemilik lahan hal ini akan menguntungkan dari siisi isiko rendah, biaya tanam lebih ringan, kualitas kerja buruh lebih bagus dan menciptakan ikatan sosial lebih erat.

"Bagi buruh tani yang diupah mendapat keuntungan yang lebih besar, terjaminnya kebutuhan pangan serta terjaminnya pekerjaan di sawah. Karena terorientasi hasil panen yang baik, maka kinerja buruh tani akan dioptimalkan agar mereka mendapatkan hasil panen yang baik pula untuk pengupahan," kata Slamet S.

Sistem bawon biasanya menerapkan bagi hasil 5 berbanding 1 hingga 6 : 1, tergantung kesepakatan antara pemilik lahan dan buruh tani. Hal ini berarti rata-rata setiap 5 kg gabah yang didapatkan pemilik, buruh tani berhak mendapatkan 1 kg gabah sebagai upah.

Terkait padi rebah, penyuluh Slamet S menguraikan tentang harga GKP pada 24 hingga 26 Maret 2019 untuk padi varietas Inpari 32, Inpari 33 dan Ciherang adalah Rp3.800 sampai Rp3.900 per kg untuk posisi pertanaman padi rebah.

"Harga Rp4.200 sampai Rp4.300 per kg untuk posisi tanaman pertanaman padi berdiri," katanya.

Adapun luasan padi rebah di Desa Mekarsari sekitar 12 hektar dan luasan padi yang dipanen baru mencapai 10 hektar sementara luas panen di seluruh Kecamatan Jatisari diperkirakan 175 hektar saat ini.

Read More

BERAS ORGANIK TASIKMALAYA MAKANAN TREND EROFA... BAGAIMANA KARAWANG?

Mungkinkah petani Karawang bisa mengikuti jejak petani Kabupaten tasikmalaya..? nampaknya ini terlalu berat perjuangan yang dilalui petani karawang, karena tingkat ketergantungan pada Pestisida kimia sudah menghawatirkan, petani karawang sudah tidak yakin lagi apabila tidak menyemprotkan salah satu jenis pestisida kimia ke tanaman padinya, meskipun padinya tidak terserang penyakin atau hama apapun.

Pemakaian Pestisida Kimia serta pupuk an-organik sudah menjadi keharusan, mereka terlalu mengejar kwantitas dan mengabaikan kwalitas, sehingga dampak negative yang ditimbulkan selain pada kesehatan konsumen juga dapat mempengaruhi ekosistem, pengelolaan produksi beras organic di Tasikmalaya bisa dijadikan contoh positif bagi petani karawang.

Dewasa ini beras organik meroket baik di bidang penjualan maupun pada trend konsumsi di dunia niaga Indonesia, aneka warna di sajikan pada performa sangat memikat pada beras organik berwarna. Ada yang berasnya berwarna coklat, merah, berwarna pink dan putih. Beras-beras premium itu telah diekspor ke Amerika Serikat dan Negara-negara Eropa.

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Simpatik Tasikmalaya Jawa Baratlah yang memproduksi beras organik berwarna-warni itu. Syaeful Bahri (50) Ketua Kelompok Gapoktan Simpatik mengatakan petani yang tergabung dalam Gapoktan Simpatik bisa memproduksi beras organik sebanyak 6 ton/ bulan.
Harganya cukup menggiurkan. “Harga beras organik produksi Gapoktan Simpatik Tasikmalaya di pasar AS 33 dolar/ 5 kg,” ungkap Syaeful.

Di dalam negeri, harga beras organik tersebut tak setinggi di pasaran ekspor. HarganyaRp10ribu/kg. Konsumen beras organik pun lumayan banyak, antara lain di Jakarta, Bandung, dan Yoyakarta.Wajar bila harga beras organik lebih mahal, karena teknik budidayanya tergolong rumit dibanding teknik konvensional. Selain itu, biaya pengolahan berasnya pun cukup mahal. Untuk satu ton beras organik berwarna, biaya untuk pemisahannya saja mencapai Rp 24 juta. “Karena pemisahan beras berwarna dan yang berwarna putih dilakukan secara manual, dipilah satu per satu,” tambahnya. Plastik pembungkusnya bukan asal plastik, melainkan dipesan khusus. Harganya Rp 2.500/ lembar plastik. Pembeliannya juga ada batas minimal pesan yakni minimal 5 kuintal. Dengan plastik khusus ini maka kemasan beras/ 5 kg bisa difakum (dihilangkan udaranya) sehingga bisa tahan lebih lama ketika disimpan. Memang serba berbiaya mahal.

Terlebih lagi biaya sertifikasi beras organiknya. Gapoktan Simpatik Tasikmalaya Jawa Barat ini mendapatkan sertifikat dari Sucofindo dan Institue for Marketecology (IMO) dari Negara Swiss. Dari 5700 ha sawah padi yang ada di Tasikmalaya, hanya sekitar 360 ha yang mendapatkan sertifikat organik dari IMO. Total biaya untuk mendapatkan sertifikat ini mencapai Rp 0,5 miliar. Warna-warniAlami Ada empat jenis beras organik berwarna yang diproduksi Gapoktan Simpatik, yakni brown rice (beras coklat), Red Rice (beras merah), Pink Rice (beras pink) dan beras putih. Beras coklat dihasilkan dari gabah varietas Sintanur yang tidak diproses pemutihan.

Warna yang membalut biji beras dibiarkan sehingga warnanya kecoklatan. Sedangkan pink rice diperoleh dari gabah varietas Ciherang. Gabah tersebut digiling, sekamnya dibuang, namun warna kulit arinya tidak dibuang, jadilah berasnya berwana pink. Untuk beras merah diperoleh dari varietas Aik Sibundong. Sedangkan beras putih digiling dua kali. Giling pertama untuk membuat sekamnya dan yang kedua untuk pemutihan. Gapoktan ini melibatkan 2.300 KK petani tersebar di 7 kecamatan, 28 kelompok tani di lahan seluas 360 ha. Hama tanaman tidak begitu masalah bagi mereka, karena ada pestisida nabati. Rata-rata produksi 7 ton/ha. Lahan yang sudah mendapatkan sertifikat 360 halah anorganik, potensinya 5.700 ha. Suwarna (65) petani padi organik yang tergabung dalam kelompok tani Saluyuh, Tanjungsari, Sukaresik, Tasikmalaya mengatakan punya lahan sawah 1.000 m2 ditanami padi varietas Ciherang mulai tahun 2006. Hasilnya dapat 11,5 kuintal gabah kering giling GKG. Karena belum mendapatkan sertifikat gabahnya laku Rp 300 ribu/kuintal. “Jualnya ke bandar,” tambahnya. Suwarna ingin agar sawahnya juga mendapatkan sertifikasi padi organik.

Bupati Tasikmalaya Tatang Farhanul Hakim, M mengatakan baru sekitar 10 persen dari petani di Tasikmalaya yang telah membudidayakan padi organik. Kendalanya menerapkan teknologi ini kata Tatang lebih banyak diperlukan tenaga untuk menyiang, biasanya hanya 2 kali menyiang, dengan teknologi ini penyiangan dilakukan hingga7kali. Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurti mengatakan petani tidak perlu dipaksa untuk menerapkan teknologi ini. Dia ingin petani dengan kesadaran sendiri untuk menerapkan teknologi ini. “Kalau mereka tahu bahwa bertanam padi organik ini lebih hemat saprodi dan harganya lebih mahal maka mereka akan melakukannya dengan kesadaran,” tutur Bayu.

Puncak Panen dan Proses Pemasaran Puncak panen tanaman padi organik di Kabupaten Tasikmalaya umumnya terjadi pada bulan Maret, April dan Juli. Meski demikian menurut Ketua Gapoktan Simpatik Syaeful Bahri (50) pada bulan-bulan lain tetap ada panen dengan produktivitas rata-rata : 70,5 kuintal/ha Gabah Kering Panen (GKP). Pengelolaan usaha tani padi organik yang dilakukan Gapoktan SIMPATIK menghasilkan produksi yang lebih baik secara kuantitas dan kualitas dengan total produksi 1.798 ton setiap panen dari total lahan yang diusahakan. Selain produksi yang meningkat diperoleh juga perbaikan ekosistem sehingga diharapkan bisa menjamin keberlanjutan usaha tani.

Program Sertifikasi Lahan Padi Organik pun dilakukan. Melalui program ini diharapkan para petani dapat termotivasi untuk meningkatkan produktivitas menjadi lebih tinggi dengan kualitas standar ekspor sehingga mereka mendapatkan nilai tambah. Dibentuk juga Internal Control System (ICS) di Gapoktan SIMPATIK Kab. Tasikmalaya. Juga ada program pendampingan yang didukung oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Tasikmalaya. Langkah inilah yang bisa menjamin dan menjaga kualitas beras.

Alur produksi pemasaran padi organik dari Gapoktan Simpatik yakni: pertama pemanenan dilakukan petani dengan disaksikan oleh Petugas Internal Control system : (ICS). Kedua, hasil panen dikumpulkan dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP) atau Gabah Kering Giling (GKG) oleh pengurus kelompok tani di gudang kelompok tani yang terletak di pinggir jalan yang bisa dilalui kendaraan roda 4. Ketiga, kelompok tani menjual kepada Internal Control System (ICS) di lokasi gudang kelompok. Keempat, pengangkutan dari gudang Kelompok Tani ke tempat penampungan dilakukan oleh Internal Control system (ICS). Kelima, pengeringan oleh internal Control system (ICS) bagi yang menjual Gabah Kering Panen. Keenam, proses penggilingan, penyortiran, pengemasan dan pelabelan oleh Gapoktan SIMPATIK Kab. Tasikmalaya. Ketujuh, Stuffing / pengemasan ke dalam kontainer oleh Gapoktan SIMPATIK Kab. Tasikmalaya. Kedelapan, pengangkutan (handling transportation) dari gudang Gapoktan SIMPATIK Kab. Tasikmalaya oleh pihak MITRA. Kesembilan, proses selanjutnya pengiriman hingga ke importer(shipping)oleh pihak MITRA.//E.N

Read More

PENYULUH PERTANIAN KARAWANG

RANGKING